Kamis, 15 Oktober 2015

Honda CB100 Dirombak Jadi | JEP STYLE


Aliran flat treck mulai ada pada tahun 1900-an ,sekarang treck ada di event AMA Pro Track Grand National Championship di Amerika serikat.

Untuk honda CB100 di rombak jadi flat track,Eksekusi modifikasi 
Ciri dari flt track sangat khas ,terutama di buntut tawon yang di bikin datar. nuansa trail yg masih kental  dengan setang bablang dan ban semi off-road .engga lupa ,headlam dibikan layaknya papan untuk dipasng nomer star.

Nampaknya,doi belumtau ini aliran apa ! mungkin aliran sungai Amazon,hehehe  
Data modifikasi yang dia tulis aliran " jep style,flat tracker dan sceambler " Wah yang mana nih,pak dhe ?






TANGKI & HEADLAMP

Enggak pusing kala pilih penyimpan bahan bakar, Alfred comot tangki copotan Yamaha DT 125. Supaya terlihat modern, tangki dibikin berwarna lewat nuansa pop art urban style. Di sana, ditulis ‘Nagara Moto, Fun Time Only’. Kemudian, lampu depan dibikin datar lewat aplikasi plat besi. Lampunya dikustom berderet atas bawah. Enggak ketinggalan, buntut dibuat flat khat flat track.


KAKI-KAKI & MESIN

Roda depan-belakang, dibikin beda ukuran. Untuk pelek depan menggunakan ring 18 inci dan belakang pakai ring 17 inci. Disempurnakan, dengan pemilihan ban semi off-road lansiran Swallow. Tujuannya, supaya mumpuni saat dibetot di trek tanah. Namanya flat track, kental akan speed. Maka dari itu, Alfred lakukan upgrade di sektor mesin. Supaya tarikannya pol, CB100 dikawinkan dengan sang adik yaitu Honda Tiger



DATA MODIFIKASI



Ban  : swallow SB117
Sein : Aftermarket
Knalpot   : Kustom
Jok  : MBtech
Setang    : Variasi
 


HONDA CB100 SPESIAL ENGINE

Honda Cb 100

Basis dasar Honda CB100 sudah jelas kurang begitu mumpuni. terlebih bagian rangka dan mesin 
Hendrik ali siswanto yang tidak lain modifikator asli jember.
Di kalangan pencinta motor klasik, Hendrik memeng sudah jago untuk urusan mengubah tampilan CB100 ini.
Di CB ini,bagaian rangka dan kaki-kaki tiru motor trail biar dasarnya kuat.

Makin kekar dengan ban lebar

Tengok saja sub frem yanng di pangkas habis.gantinya dengan pipa dimeter 1,5 dim dengan panjang 25cm, untuk mengantikan sub frem bawah motor "modelnya meniru CB XL 125. karna mengejar kesn jadul.

 Hitam doft,Semakin Sangar

 Suspensi depan bawah CB100 jelas kurng mumpuni ,makanya hendrik mempercayakan tumpuan pada depan pengengluaran gasoli.sok ini diameter super gede "ketika di aplikasi ,as komstir di buat ulang ,modelnya drat runcing ke atas .model ini,di terapkan di motor SE supaya lebih kuat " Ambulu-Jember.


DATA MODIFIKASI 
Ban depan : Comet 120/70-17
Ban belakang : Comet 160/60-17
Pelek depan : Ride It 3,5X17
Pelek belakang : Ride It 5,5x17

 


Kamis, 01 Oktober 2015

TUTORIAL MENSCEP

KISAH SEORANG PEMANJAT YANG MENGAMPUTASI TANGAN SENDIRI | 127 HOURS -





Aron Ralston, seperti biasa melakukan pendakian rutinnya di hari Sabtu seorang diri. Ia berencana untuk menghabiskan hari dengan mengendarai sepeda gunung dan mendaki batu-batu merah dan pasir di luar Taman Nasional Canyonlands di Utah tenggara. Ralston berasal dari Aspen, Colorado, adalah sarjana teknik dan musik yang pernah bekerja selama lima tahun di Intel.

Ralston sendiri telah mendaki tempat itu berkali-kali dan kali ini dia melakukannya sebagai pemanasan untuk sebuah pendakian gunung tertinggi di Amerika Utara. Mengenakan T-shirt dan celana pendek dan membawa ransel ia berencana untuk melakukan ‘Canyoneering’ jauh ke ngarai Bluejohn Canyon. Ranselnya berisi dua burrito (makanan khas Meksiko), satu liter air, alat multi fungsi tapi imitasi bermerek Leatherman, alat P3K, kamera video, kamera digital dan peralatan panjat tebing. Dia tidak membawa jaket. Canyoneering adalah melakukan perjalanan ke ngarai dengan menggunakan berbagai skill : berjalan, mendaki, memanjat tebing dengan menggunakan berbagai peralatan. Canyoneering yang dilakukan Ralston adalah melewati lembah yang bercelah sempit.

Ralston berada 150 meter di atas puncak dinding vertikal Bluejohn Canyon. Dia melakukan manuvernya untuk mencapai bagian atas sebuah batu besar yang terselip di antara dinding ngarai sempit. Dia mulai memanjat permukaan batu dan rasanya sangat stabil ketika ia berdiri di atas. Ketika ia mulai turun di sisi yang berlawanan, batu seberat 800-pound (kurang lebih 362 kg) itu tiba-tiba bergeser, menjepit lengan kanannya – ia terjebak.

Saat terjebak dengan tangan yang terhimpit batu, dia memiliki beberapa pilihan :antara menunggu seseorang yang muncul untuk menyelamatkannya, membebaskan dirinya sendiri, atau kalau semua cara gagal dia akan memutuskan lengannya. Kematian adalah kemungkinan yang terakhir tapi Ralston tidak ingin mempertimbangkannya.

Ralston mencoba tali, jangkar dan alat yang ada untuk memindahkan batu, hasilnya batunya tidak bergerak sedikitpun. Berjam-jam jam dia berjuang untuk membebaskan dirinya dari batu tanpa hasil yang posisitf. Di malam hari temperaturnya turun, Ralston masih bekerja untuk membebaskan dirinya sendiri. Minggu dan Senin berlalu, tapi ia masih terjebak. Sinar matahari sampai di lantai ngarai sempit hanya untuk waktu yang sangat singkat waktu setiap hari. Dia kehabisan makanan dan air pada hari Selasa.

Pada hari Rabu, Ralston mulai menghirup air seni yang telah ia simpan di hari sebelumnya. Dia mengeluarkan video kamera dan merekam pesan terakhir berisi selamat tinggal kepada orang tuanya. Dia lalu mengukir namanya, tanggal lahir, dan apa yang dia yakin adalah hari terakhirnya di bumi ke dinding ngarai. Di atasnya dia mengukir RIP.

Pada Kamis pagi, Ralston melihat suatu visi (penampakan?) yaitu seorang anak 3 tahun berlari lalu dibawa oleh seorang pria yang hanya memiliki sebuah lengan. Dia mengerti visi itu bahwa anak itu akan menjadi anak di masa depannya dan dia memutuskan untuk melakukan tindakan yang segera agar hidupnya bisa bertahan. Jika ia tidak menyelamatkan dirinya sekarang, dia tidak akan memiliki kekuatan fisik yang tersisa untuk melakukannya nanti. Akhirnya dia mengambil keputusan yang dramatis : memotong tangannya sendiri!Ralston siap untuk mengamputasi lengan kanan di bawah siku dengan menggunakan pisau multi fungsinya. Menyadari bahwa pisau itu tidak cukup tajam untuk memotong tulang lengan ia menekan tangannya melawan batu dan mematahkan tulangnya sehingga dia akan bisa memotong tangannya melalui jaringan. Pertama ia mematahkan tulang radius, yang menghubungkan siku dengan jempol. Dalam beberapa menit ia memecahkan ulna, tulang di bagian luar lengan bawah. Selanjutnya ia menerapkan tourniquet yaitu membebat atau mengikat erat lengannya. Dia menggunakan pisau untuk mengamputasi lengan kanan di bawah siku. Seluruh prosedur dibutuhkan kurang lebih satu jam.

Ralston memberikan pertolongan pertama untuk dirinya sendiri dari kit kecil di ransel. Ia menancapkan jangkar dengan tali di tempat itu. Ia kemudian mendaki 5 mil ke hilir Horseshoe Canyon yang berdekatan, di mana ia bertemu dengan keluarga wisatawan dari Belanda yang sedang berlibur.

Pasangan Belanda Eric dan Monique Meijer dan putra mereka, Andy, mulai keluar dari ngarai ketika mendengar suara di belakang “Tolong, saya butuh bantuan”. Pasangan itu segera menyadari bahwa dia pasti seorang pendaki yang hilang seperti keterangan dari petugas sehari sebelumnya..

Ralston berjalan cepat menuju pasangan ini dengan lengannya yang digantung di sling buatan sendiri dan ia berbicara dengan jelas: “Halo, nama saya Aron, saya jatuh dari tebing pada hari Sabtu dan saya terjebak di bawah batu besar. Saya memotong tangan saya empat. jam yang lalu dan saya memerlukan pertolongan medis. Saya butuh helikopter “.

Istri dan anak Eric mencoba untuk keluar lebih dulu dari ngarai secepat mungkin untuk mendapatkan bantuan. Eric bersama dengan Aron untukn memberikan dia makanan, air dan dukungan mental. Meskipun kehilangan darah, Ralston tetap mampu berjalan tapi pasir di dalam sepatunya mulai mengganggu dia. Dia berhenti sejenak di tempat yang teduh untuk menghilangkkan pasir dalam sepatunya lalu melanjutkan perjalannnya lagi.

Tiba-tiba awak pesawat melihat dua orang di Horseshoe Canyon melambai. Ini adalah istrinya Eric dan anaknya dan mereka memberikan sinyal ke arah helikopter dan menunjuk ke arah korban. Awak pesawat merespon dengan cepat dan mendarat di tempat yang luas di lembah dekat Ralston. Kru pesawat terkejut saat melihat – lapisan darah kering dan segar tubuhnya – dan lengan yang hilang.

Ralston menyandarkan kepalanya kembali helikopter dan menghirup air. Vetere mengajaknya ngobrol, sehingga dia tidak akan kehilangan kesadaran. Dua belas menit kemudian, helikopter tiba di Allen Memorial Hospital di Moab, Utah. Ralston masuk ke ruang gawat darurat tanpa bantuan, kemudian menunjuk pada peta di mana dia telah terjebak.

Para penyelamat heran Ralston tetap hidup. Sebuah helikopter kemungkinan besar tidak akan menemukannya karena posisinya di celah lembah yang dalam dan sempit. Aron Ralston memiliki semangat luar biasa untuk hidup, dia tidak pernah menyerah dan akhirnya dia selamat.

Kisah Ralston sendiri sudah diangkat ke layar lebar dengan judul “127 Hours” dengan pemerannya James Franco.

CATATAN SURVIVOR DIAN - GN. SEMERU, NOV 2006



Semeru | Photo: Dimas A. Pratama




Seorang mahasiswa Universitas Jember (Unej) Jawa Timur yang tercatat kuliah Diploma III Jurusan Administrasi Keuangan Fakultas Ekonomi angkatan 2004, Dian Susanto, dinyatakan hilang saat pendakian di Gunung Semeru.

Hilangnya Dian Susanto yang anggota yunior Mahasiswa Pecinta Alam (Mahapala) Unej dan juga putra seorang Provost TNI AD asal Situbondo itu sejak Rabu (22/11) sore lalu, setelah melakukan pendakian ke puncak Gunung Semeru pada Senin (20/11) dini hari.

Informasi yang dihimpun Tempo menyebutkan, Dian awalnya mendaki gunung tertinggi se-Pulau Jawa (3.676 meter) itu bersama tiga temannya, yakni Windarto, Sholeh Hanafi dan Fuad Handitya yang semuanya merupakan anggota senior Himapala Unej.

"Setelah turun dari pendakian, Dian ada di urutan paling terakhir dan tiga temannya sudah jauh mendahuluinya hingga sampai di base camp Ranu Pane," kata Ketua Himapala, Janarko kepada Tempo, siang tadi.

Diperkirakan lokasi hilangnya Dian, menurut Janarko, berada di lereng yang memiliki dua cabang jalan tepatnya di Cemoro Tunggal atau Jambangan. Janarko awalnya mendapat informasi hilangnya Dian yakni dari seorang anggota SAR Ranu Pane via SMS melalui ketiga teman Dian, selain itu pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) juga mengabarkan hal yang sama. (Media Online Tempo, 24 November 2006)

"Kita hanya manusia biasa yang tidak bisa melawan alam, dan kita adalah makhluk yang kecil di hadapan Tuhan" : Dian Susanto (Survivor Semeru, November 2006)

PERJALANAN MENDAKI PUNCAK PARA DEWA

18 November 2006 : Rencana Ke Gunung Semeru

Saya, Dian Susanto (biasa dipanggil stempel) ingin berbagi cerita kepada teman yang kadang bertanya tentang perjalanan saya di Gunung Semeru, November 2006 silam.

Tanggal 18 November 2006, saya bersama windarto (Metehek) anggota Mahapala DIII FE Universitas Negeri Jember (UNEJ), selesai ujian akhir semester ganjil berencana mendaki ke Gunung Semeru.

Pada pendakian ini kami mengajak teman lain yang juga Mahasiswa FE UNEJ yaitu, Fuad Haditya dan Sholeh Hanafi, dan melakukan persiapan kebutuhan logistik serta perlengkapan pendakian gunung.

19 November 2006 : Bermalam Di Ranukumbolo

Pagi hari dan menggunakan dua sepeda motor, kami berempat start dari Jember menuju Lumajang. Terbesit firasat tidak baik dalam perjanan, ketika salah satu sepeda motor kami mengalami kerusakan rantai. Namun kami berusaha membuang jauh-jauh firasat tidak baik tersebut.

Tiba di Lumajang kami mampir sebentar ke Pasar Senduro untuk melengkapi perbekalan logistik. Pukul 11 siang, dari Pasar Senduro perjalanan kami lanjutkan kembali menuju ke Ranu Pane.

Tiba di Ranu Pane, sepeda motor kami kami titipkan di rumah Pak Tumari, di sini kami sempat bertemu dengan Rombongan OPA Janagiri Jogjakarta.

Tim kami melewati Jalur Watu Rejeng sementara Tim Janagiri melewati Jalur Ayak-Ayak. Selama perjalanan hari pertama Fuad diare, tapi bisa teratasi dengan minum obat diare.

Tiba di Ranukumbolo kami bertemu kembali dengan Tim Janagiri Jogjakarta, kemudian mendirikan tenda dan memasak bekal logistik untuk makan malam.

20 November 2006 : Bermalam Di Pos Arcopodo

Perjalanan dilanjutkan dari Ranu Kumbolo ke Kalimati. Setelah ambil air di Sumber Mani, Kali Mati, perjalanan kami lanjutkan menuju ke Arcopodo untuk istirahat dan berkemah di sana.

Malam hari Windarto (Metehek) mengalami sesak nafas (sakit asmanya kambuh). Obat yang disemprotkan ke mulutnya sudah habis.

Ketika itu kondisi fisik teman-teman sedang kurang baik, dan diputuskan untuk tidak muncak (summit attact) pada esok hari. Melihat kondisi fisik teman-teman yang sedang drop, saya urungkan niat untuk menuju puncak Mahameru.

Kira-kira jam 3 pagi, rombongan Tim Janagiri yang berkemah di Kalimati rupanya mulai menuju puncak dan melewati tenda kami.

Teman-teman dari Janagiri menawarkan bantuan oksigen dan mengajak kami untuk ke Puncak Mahameru. Tim kami dan Tim Janagiri melakukan koordinasi.

Tiga teman yang kondisi fisik tidak memungkinkan untuk ke Puncak menunggu di tenda. Saya dan Tim Janagiri berangkat menuju puncak Mahameru. Pukul 5.30 pagi saya mencapai puncak dan berfoto bersama rombongan Janagiri.

Satu orang Tim dari Janagiri yang bernama Kolap, karena kondisi fisiknya kurang bagus diantarkan ke tenda kami di Arcopodo. Saya juga dapat kabar bahwa kondisi Windarto juga sedang kurang baik. Saya putuskan turun ke Arcopodo lebih dulu untuk melihat kondisi teman saya Windarto.

MASA-MASA SURVIVAL ENAM HARI (LIMA MALAM)

21 November 2006 : Hari Kesatu

Asyiknya turun dengan medan yang lebih ringan daripada menuju ke puncak, menjadikan saya terlalu ke kanan dari jalur pendakian yang menuju ke Cemoro Tunggal, yaitu jalan menuju Arcopodo.

Ada banyak pohon cemara, saya teruskan ke bawah mengikuti jalan lahar, saya pikir akan tembus ke Arcopodo atau Kalimati.

Saya sempat jatuh ke jurang yang dalamnya sekitar 14 meter. Kaki kiri saya mengalami cidera, untuk berjalan terpaksa harus diseret. Meski dengan kaki kiri yang sakit saya tetap berjalan hingga menjelang sore hari.

Posisi saya ada di tepi bibir tebing curam yang dalam. Orang menyebutnya lokasi BLANK 75, saya baru sadar bahwa saya sedang tersesat

Nama blank 75 ialah tempat biasanya ditemukan survivor yang meninggal atau tempat survivor ditemukan selamat di bibir jurang. Itu saya ketahui setelah saya berhasil selamat dari lokasi ini.

Sore hari turun gerimis, saya coba naik punggungan agar tidak terseret air saat turun hujan, untuk membuat bivak sekedarnya dari tanaman yang ada di sekitar tempat itu. Perlengkapan yang saya bawa hanya tas daypack, kamera, tempat minum dan jaket serta pakaian yang melekat di badan.

Malam hari sangat gelap sampai saya tidak bisa melihat apapun dan tidak bisa membuat perapian karena hujan dan tidak membawa korek.

Situasi psikologi seperti tak percaya bahwa saya tersesat, masih berharap ini hanya mimpi. Perasaan campur aduk jadi satu antara cemas, takut akan serangan binatang buas dan sebagainya. Dalam hati tidak percaya bahwa saya sedang tersesat.

22 November 2006 : Hari Kedua

Pada saat matahari mulai terbit saya berjalan dan mencari puncak yang tinggi untuk mencari jalan keluar dan menghangatkan tubuh dengan cara berjalan.

Tak seperti yang dibayangkan, pada saat saya menaiki punggungan yang saya rasa tinggi dan bisa melihat sekeliling, ternyata masih banyak lagi punggungan yang lebih tinggi dan banyak jurang di sekitarnya.

Siang hari kepala saya rasanya pusing rupanya karena sudah dua hari saya tidak makan. Sesuai ilmu diklatsar survival yang saya pelajari di MAHAPALA mengenai ciri tumbuhan yang bisa dimakan. Survival saya lakukan dengan mencari daun yang bisa dimakan dan tersedia di sana. Awalnya sempat muntah karena perut tidak terbiasa.

Selama perjalanan saya juga memakan bunga anggrek dan buah murbei yang saya jumpai di punggungan gunungan atau pinggir jurang. Air saya peroleh dengan menggali pasir bekas hujan semalam, diendapkan airnya, lalu saya masukkan ke botol minum.

Sampai sore hari saya belum menemukan jalan keluar, hujan mulai deras sementara saya ada di pinggir jalan lahar, saya perhatikan air semakin tinggi dan terjadi longsor, lalu saya cari tempat yang agak tinggi.

Tidak sempat membuat bivak, saya tidur melingkar di pohon besar agar tidak jatuh ke jalan lahar dan "disapu" oleh air dari atas. Malam hari saya berfikir. Saya pernah melihat peta countur Semeru, bahwa di sebelah Timur ada tempat yang landai dan biasanya di sanalah letak perkampungan.

Saya putuskan bahwa besok saya harus ke arah Timur dengan panduan “kompas alam” yaitu matahari. Pagi hari setelah melihat sinar matahari saya langsung berjalan ke arah Timur.

23 November 2006 : Hari ketiga

Mendaki punggungan yang kadang terjal. Terjatuh saat berpegangan semak-semak yang tidak terlalu kuat, atau terguling-guling saat terpeleset menuruni jurang. Ada suatu lokasi yang unik dan tampak datar. Namun setelah saya injak saya terjatuh ke dalam. Rupanya dataran tersebut adalah anyaman alami dari akar-akar pohon.

Siang hari saya melewati celah pepohonan dan ada lubang yang dalam diantara pohon tersebut, sepertinya jika terjatuh kesana sulit untuk bisa selamat karena lubang vertical yang sangat dalam. Selama perjalanan saya tetap makan dedaunan yang bisa untuk dimakan, mengambil air dari ceruk-ceruk di bebatuan sisa air hujan semalam.

Sampai pada sore hari, saya menggali tanah di lereng di bawah akar pohon besar untuk saya gunakan tidur. Pada malam ketiga terdengar suara dentuman beberapa kali, sepertinya semeru sedang aktif, karena pada malam sebelumnya tidak terdengar suara sekeras itu.

Hal paling berat selama saya tersesat adalah pada saat hari mulai gelap. Malam serasa sangat panjang keadaan jiwa merasa gak nyaman. Entah, kalau saya bikin api apakah perasaan itu sedikit reda.

Sayangnya hampir setiap malam turun gerimis atau hujan yang agak deras, minus bekal korek api. Menurut pikiran saya, jika dipaksakan membuat api dengan kondisi kayu yang basah dan tidak berhasil, hanya akan menguras tenaga dan melemahkan mental saya. Ini hanya pemikiran saya pribadi dan mungkin bertentangan dengan prinsip survival.

24 November 2006 : Hari keempat

Masih tetap sendiri menuju ke arah Timur. Sempat putus asa juga karena seperti dikepung oleh bukit-bukit yang tak ada ujung jalan keluarnya.

Saya menghibur diri dengan cara bernyanyi, dan berusaha berbicara dengan diri saya sendiri. Serta menciptakan teman yang fiktif untuk diajak berbicara, agar kejiwaan dan semangat tetap terjaga.

Sekitar punggungan gunung saya sempat melihat kotoran binatang yang besar, saya pikir itu adalah kotoran binatang buas dan saya cepat berlari untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Cukup berat untuk melewati hutan yang mungkin belum pernah dilewati manusia. Vegetasinya sangat rapat sehingga sulit sekali untuk dilewati, dan saya tidak membawa pisau tebas untuk membuka jalan.

Menjelang malam saya melihat ada bekas potongan pohon, hati sangat gembira sekali seperti ada harapan untuk jalan keluar. Di sekitar tempat itu tidak nampak ada jalan, malam pun tiba. Saya membangun bivak dari bekas potongan kayu-kayu di tempat tersebut.

Sepanjang malam saya berdoa agar esok bisa menemukan jalan keluar, karena saya yakin bekas potongan kayu ini menandakan pernah ada orang yang ke sini.

25 November : Hari kelima

Pagi hari saya sangat senang karena setelah mencari di sekitar potongan pohon. Ada "jalan tikus" (jalur setapak) menuju arah barat hingga mentok jalannya buntu, berbalik arah ke timur saya ikuti jalan ini terus sampai saya lelah dan beristirahat sejenak.

Kaget rasanya setelah sekian hari untuk pertama kalinya bertemu dengan manusia, orang tersebut adalah Pak Suwadi dan Pak Tamin yang sedang mencari rotan di hutan.

Pak Tamin dan Pak Suwadi mengatakan, jika terus mengikuti jalan tikus ini, akan sampai di hutan bambu dan perkampungan. Saya tidak mau mengambil resiko dan menunggu dua orang itu menyelesaikan pekerjaan mencari rotan. Esok hari baru mereka turun dan saya tidur di gubuk mereka di dalam hutan.

Perut sudah lumayan terisi, tidak lupa juga air gula hangat yang diberikan oleh mereka. Pak Suwadi dan Pak Tamin sudah mendapat rotan yang dicari. Mereka turun lewat hutan bambu dan saya mengikuti dari belakang.

Akhirnya kami bertiga sampai di sungai kampung Sumbermujur, Desa Candipuro. Melihat air sungai yang sangat jernih, saya langsung meminumnya. Beberapa hari kemarin saya hanya minum air keruh bercampur pasir.

26 November 2006 : Hari Keenam

Gaya pakaian saya yang compang camping di beberapa bagian, merupan hal yang tak lazim di kampung itu.Seorang bapak (Tohari) yang akan mandi di sungai, bertanya: "Kamu mau kemana, kok bawa tas dan memakai sepatu dengan celana yang sudah sobek?" Saya jawab bahwa saya mengalami tersesat di Gunung Semeru.

Kemudian Pak Tohari bertanya lagi: "Apakah saya yang diberitakan hilang di koran, televisi dan radio?" Saya jawab tidak tahu karena selama saya hilang saya tidak tahu keadaan di luar hutan.

Dari sungai saya dibawa ke rumah Pak Tohari. Entah siapa yang memberi kabar tentang diri saya, di rumah Pak Tohari sudah banyak warga yang kumpul. Setelah mandi di sungai saya diberi pakaian ganti, makan / minum, dan pinjaman HP untuk menghubungi sekretariat MAHAPALA UNEJ.

Teman-teman di sekretariat tidak percaya bahwa yang menelepon itu adalah saya, mereka minta info ciri-ciri pakaian yang saya kenakan pada saat hilang di gunung. Setelah mereka yakin dengan ciri-ciri pakaian yang terakhir saya gunakan, kemudian Sekretariat segera menghubungi Tim SAR yang ada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Saya dijemput oleh Tim SAR gabungan Lumajang dari Desa Candipuro untuk dibawa ke RSUD Lumajang. Selesai dari RSUD Lumajang kemudian menuju ke sekretariat PA32 dan terakhir kembali lagi di Ranupane. Setelah tiba di Ranupane saya bertemu teman-teman SAR Kabupaten Lumajang, SAR TNBTS, SAR OPA dan teman lainnya yang tidak bisa saya sebut satu persatu.

Saya berterimakasih sekali kepada teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk menjadi TIM SAR - Selesai